Nama: Saifun Naja
NIM: 1791014033
Tugas UAS Makul:
Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari
1. Asad Shahab (1971:14)
menceritakan bahwa Kyai Hasyim mengatakan: “Sesungguhnya peristiwa-peristiwa
yang datang secara mendadak seperti ini, tidak boleh menghancurkan cita-cita
kita dan tidak boleh mematahkan semangat perjuangan.”
Berikan ulasan
tentang sikap “pantang sebelum menang” dari Kyai Hasyim ini!
Perjuangan Kyai
Hasyim Mendirikan Pesantren Tebuireng
Ketika mendirikan
Pesantren Tebuireng, Kyai Hasyim tidak serta merta melaluinya dengan mudah.
Beliau dengan gigih menghadapi segala macam kesulitan dan hambatan yang selalu
diluncurkan oleh pihak colonial Belanda. Ketika Belanda gagal dalam menjegal
Kyai Hasyim, Belanda pun beralih mengggunakan kekuatan dan kekerasan. Mereka
mengirim pasukan bersenjata untuk menguasai Pesantren Tebuireng dan
memporak-porandakan pesantren tersebut.
Kekuatan
penyerang pada waktu itu berusaha membunuh Kyai Hasyim atau menculiknya. Oleh
sebab itu, terjadilah benturan berdarah antara kekuatan penyerang dan para
santri serta para guru yang mempertahankan pesantren dan menjaga keamanan Kyai
Haysim. Pihak penyerang menggunakan berbagai alas an dan tuduhan untuk
membenarkan tindakan mereka. Mereka menuduh bahwa Pesantren Tebuireng merupakan
pusat perusuh pemberontak, dan orang-orang Islam ekstrem.
Pada hari
berikutnya Kyai Hasyim keluar menyaksikan apa yang sudah terjadi dan menjumpai
sebagian besar bangunan pondok pesantren kerusakan parah. Benda-benda penting
yang sangat berharga seperti kitab-kitab dan lain sebagainya telah dirampas.
Kyai Hasyim kemudian mengumpulkan seluruh guru dan santri dan tokoh masyarakat
setempat di lapangan pondok. Kyai Hasyim menyampaikan pidato berharga yang
membesarkan hati mereka.
Beliau menyerukan
kepada hadirin agar tetap bersabar dan tabah untuk meneruskan perjuangan.
Beliau bertakata: ”Kejadian-kejadian seperti ini tidak boleh menghancurkan
cita-cita dan mengendorkan semangat.” Peristiwa ini justru merupakan motif
pendorong yang utama untuk melipatgandakan tekad dan kegiatan.
Kemudian Kyai
Hasyim mengirim delegasi ke berbagai daerah di Indonesia. Dukungan bantuan baik
moral maupun material datang dari segala penjuru. Kaum muslimin menganggap
bencana ini tidak hanya mengenai pesantren semata, melainkan juga merupakan
penghinaan terhadap kaum muslimin secara umum.
Mengetahui hal
tersebut, Belanda tidak tinggal diam. Belanda mulai mengawasi gerak-gerik para
ulama’ dan seringkali melontarkan tuduhan bahwa mereka melawan “Pemerintahan
yang sah” Belanda, mengobarkan kekacauan, dan tindakan-tindakan lain
sebagainya. Namun, para ulama’ tetap meneruskan perjuangan mereka tanpa
menghiraukan hambatan-hambatan tersebut.
Dalam kurun waktu sebentar, Pesantren
Tebuireng dapat kembali dipulihkan. Bahkan bangunannya lebih besar, lebih luas,
dan lebih kokoh. Pada tahun 1317 H masyarkata islam mengadakan perayaan di
pesantren baru menyambut tanggal berdirinya pesantren yang menjadi batu permata
bagi pencetakan para ulama’ besar dan menara ilmu serta perjuangan ini. [1]
Inti dari sikap
Kyai Hasyim dalam peristiwa tersebut ialah bersabar atas apa yang menimpa
beliau. Bersabar bukan berarti hanya berdiam diri dan menggu uluran tangan dari
orang lain. Akan tetapi sabar ialah tidak lekas terbawa emosi saat Pesantren
Tebuireng dan balas dengan menyerang. Sabar dalam melanjutkan perjuangan untuk
mensyiarkan agama islam sekaligus meraih kemerdekaan Bangsa Indonesia.
Hal ini pula yang
dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam
berdakwah. Meskipun cacian dan gangguan tidak pernah sekalipun berhenti
dilakukan oleh orang kafir kepada Rasulullah SWT dan umat islam saat itu.
Lantas tidak membuat Rasulullah dan umat islam kehilangan semangat untuk
mensyiarkan agama islam, rohmatan lil ‘alamin.
Demikianlah yang
dapat kita teladani dari Kyia Hasyim, dengan kesabaran yang tetap dipegang
teguh, Allah menjajikan pertolongan dan pahala yang besar atas orang-orang yang
bersabar atas apa yang menimpa mereka. Firman Allah dalam surat Ali ‘Imron ayat
200:
يااَيُّهَا
الَّذِيْنَ آمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَبِطُوْا وَاتَّقُوا اللهَ
لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
200. “Hai orang-orang
yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah
bersikap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya
kalian beruntung.”
Firman Allah dalam surat Az-Zumar ayat 10:
قُلْ يعِبَادِ الَّذِيْنَ امَنُوْا اتَّقُوْا
رَبَّكُمْ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَاَرْضُ
اللهِ وَاسِعَةٌ اِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
10. “Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku
yang beriman. Bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik
di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya
hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”
[1] A., Masyhuri Aziz. 2006. 99 KIAI
PONDOK PESANTREN NUSANTARA: Riwayat, Perjuangan, dan Do’a.
Yogyakarta:KUTUB.