Minggu, 17 Desember 2017

Ke'aliman Kyai Haysim

Nama: Saifun Naja
NIM: 1791014033
Tugas UAS Makul: Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari

2. Syekh Rabah Hasunah, kolega Kyai Hasyim dari Al-Azhar Mesir pernah berkomentar tentang sosok kawannya itu (Asad Shahab, 1971:32)
“Beliau adalah orang yang tenang, sangat sabar dan tidak terburu-buru. Menghadapi segala permasalahan dengan dada yang lapang dan tidak pernah terbawa perasaan. (Oleh karena itu) beliau mampu memecahkan masalah-masalah yang berat, sekalipun dalam situasi yang sulit, dengan pemecahan yang gemilang. Beliau banyak bekerja, tetapi beliau melakukan pekerjaannya dengan sabar dan tenang.”
Berikan ulasan tentang sosok Kyai Hasyim sebagai seoran ‘alim dalam menghadapi persoalan!

            Seorang ‘alim tentu saja dalam setiap tingkah laku dan tindakannya harus berlandaskan keilmuan. Sedangkan dasar keilmuan Kyai Hasyim adalah agama, yang mana bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalam pengertian orang islam, orang ‘alim adalah orang yang mendalami ilmu, teguh, benar, bijak dan yakin akan keesaan Allah SWT. Dalam hal ini, Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak pernah luput dalam perwujudan setiap pola tingkah laku.
            Apabila semakin dalam ilmu seorang ‘alim tersebut maka akan tercermin dalam sikapnya. Hal ini dicontohkan oleh Kyai Hasyim. Dalam memecahkan masalah beliau adalah orang yang sabar dan tidak terburu-buru. Beliau berpikir dengan sangat hati-hati. Segala sesuatunya harus berlandaskan hukum islam. Seperti contoh dalam peristiwa pendirian NU, meskipun sudah terlihat benar, beliau lantas tidak langsung menyetujui usulan Kyai Wahab ini. setelah berpikir dan mendapatkan petunjuk dari gurunya, Kyai Kholil, Kyai Hasyim pun menyetujui pembentukan organisasi NU ini.
            Rasulullah SAW bersabda:  
التَّأَنِّي مِنَ اللهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
Ketenangan datangnya dari Allah, sedangkan tergesa-gesa datangnya dari setan.


Sabtu, 16 Desember 2017

Resolusi Jihad Yang Terlupakan

Resolusi Jihad Yang Terlupakan
KH. Hasyim Asy’ari seorang ulama’ besar yang tidak hanya berjuang dalam menegakkan agama, tapi juga mempunyai andil besar dalam meraih kemerdekaan Indonesia. Tetapi sayang banyak yang yang tidak mengetahui sejarah besar dibalik membaranya semangat arek-arek Surabaya dalam menghadapi sekutu yang ingin kembali menjajah Nusantara. Banyak dari mereka yang juga mengatakan bahwa Resolusi Jihad hanyalah legenda belaka, bukan sebagai fakta sejarah.
Atas dasar tersebut, kemudian Dr (Hc), Ir. KH. Salahudin Wahid, cucu dari Kyai Hasyim sekaligus pengasuh Pesantren Tebuireng membentuk Tim guna meneyelidiki bagaimana peristiwa yang sebenarnya terjadi. Tim tersebut mencari informasi terkait berita tentang Resolusi Jihad di Koran Surabaya, Yogya atau Jakarta yang terbit pada akhir Oktober 1945. Kalau berita tersebut memang ada, maka Resolusi Jihad bukanlah legenda belaka, melainkan fakta sejarah yang dikaburkan.
Maka Tim tersebut mencari informasi tentang Resolusi Jihad ke Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional di Jakarta. Dalam kurun waktu kurang dari seminggu diperoleh jawaban memang ada berita tentang dikeluarkannya Resolusi Jihad pada media Koran yang terbit kisaran akhir Oktober 1945. Terbuktilah bahawa Resolusi Jihad bukan hanya sekedar cerita, tetapi fakta sejarah yang seharusnya dimuat dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah.[1]
Berfikir positif, mungkin Kyai Hasyim, para sesepuh Kyai NU, dan para santri yang berjuang tidak ingin mengumbar perjuangan mereka, dikarenakan akan menyebabkan timbulnya perasaan riya’ yaitu pamer yang ingin mendapatkan sanjungan dari orang lain, bukan karena Allah SWT. Para Kyai sesepuh begitu ikhlas dan lapang dada dalam berjuang, semunya dilakukan hanya karena ingin mendapatkan ridha Allah SWT semata.
Sungguh besar jasa para Kyai tersebut untuk membakar semangat para pejuang untuk mengusir penjajah dari tanah ibu pertiwi. Seandainya pada hari itu, tanggal 22 Oktober PBNU tidak mengadakan rapat di kantor PBANO (Ansor Nahdlotul Oelama) di Jl. Bubutan VI/2 Surabaya tentang kewajiban umat Islam dalam jihad mempertahankan tanah air dan bangsanya. Entah bagaimana nasib Bangsa Indonesia saat ini, mungkin kita masih dalam belenggu penindasan.
Resolusi Jihad yang disampaikan oleh Rais Akbar NU yakni Kyai Hasyim dalam rapat PBNU yang isinya sebagai berikut:
1.   Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 wajib dipertahankan.
2.   Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang wajib dipertahankan.
3. Musuh RI yaitu Belanda yang kembali ke Indonesia dengan bantuan Sekutu (Inggris) dalam masalah tawanan perang bangsa Jepang tentulah akan menggunakan kesempatan politik dan militer untuk kembali menjajah Indonesia.
4.  Umat islam terutama anggota NU wajib mengangkat senjata melawan Belanda dan Sekutunya yang ingin menjajah Indonesia kembali.
5.  Kewajiban tersebut adalah suatu jihad yang menjadi kewajiban setiap orang islam (fardhu ‘ain) yang berada dalam jarak radius 94 KM. Sementara meeka yang berada di luar jarak tersebut berkewajiban membantu secara material kepada mereka yang berjuang.[2]
Hal ini pun sejalan dengan Firman Allah dalam Surat Al-Hajj ayat 39:
اُذِنَ لِلَّذِيْنَ يُقَاتَلُوْنَ بِاَنَّهُمْ ظُلِمُوْا وَاِنَّ اللهَ عَلى نَصْرِهِمْ لَقَدِيْرٌ
39.“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena Sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan Sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.”
Demikian lah hal yang dapat kita teladani dari perjuangan Kyai Hasyim. Beliau tidak semata-mata memikirkan dirinya sendiri. Bahkan beliau tidak sean menjadikan dirinya sendiri sebagai benteng untuk kepentingan umat. Baik dalam menegakkan agama dan hingga membela negara.
[1] Bustami, Abdul Latif, dkk. 2015. Resolusi Jihad “Perjuagan Ulama: dari Menegakkan Agama Hingga Negara”. Jombang: Pustaka Tebuireng.
[2] Khuluq, Lathiful. 2000. Fajar Kebangunan Ulama: Biografi K.H. Hasyim Asy’ari. Yogyakarta: LKiS.




Perjuangan Kyai Hasyim Mendirikan Pesantren Tebuireng

Nama: Saifun Naja
NIM: 1791014033
Tugas UAS Makul: Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari

1.   Asad Shahab (1971:14) menceritakan bahwa Kyai Hasyim mengatakan: “Sesungguhnya peristiwa-peristiwa yang datang secara mendadak seperti ini, tidak boleh menghancurkan cita-cita kita dan tidak boleh mematahkan semangat perjuangan.”
Berikan ulasan tentang sikap “pantang sebelum menang” dari Kyai Hasyim ini!

Perjuangan Kyai Hasyim Mendirikan Pesantren Tebuireng      
Ketika mendirikan Pesantren Tebuireng, Kyai Hasyim tidak serta merta melaluinya dengan mudah. Beliau dengan gigih menghadapi segala macam kesulitan dan hambatan yang selalu diluncurkan oleh pihak colonial Belanda. Ketika Belanda gagal dalam menjegal Kyai Hasyim, Belanda pun beralih mengggunakan kekuatan dan kekerasan. Mereka mengirim pasukan bersenjata untuk menguasai Pesantren Tebuireng dan memporak-porandakan pesantren tersebut.
Kekuatan penyerang pada waktu itu berusaha membunuh Kyai Hasyim atau menculiknya. Oleh sebab itu, terjadilah benturan berdarah antara kekuatan penyerang dan para santri serta para guru yang mempertahankan pesantren dan menjaga keamanan Kyai Haysim. Pihak penyerang menggunakan berbagai alas an dan tuduhan untuk membenarkan tindakan mereka. Mereka menuduh bahwa Pesantren Tebuireng merupakan pusat perusuh pemberontak, dan orang-orang Islam ekstrem.
Pada hari berikutnya Kyai Hasyim keluar menyaksikan apa yang sudah terjadi dan menjumpai sebagian besar bangunan pondok pesantren kerusakan parah. Benda-benda penting yang sangat berharga seperti kitab-kitab dan lain sebagainya telah dirampas. Kyai Hasyim kemudian mengumpulkan seluruh guru dan santri dan tokoh masyarakat setempat di lapangan pondok. Kyai Hasyim menyampaikan pidato berharga yang membesarkan hati mereka.
Beliau menyerukan kepada hadirin agar tetap bersabar dan tabah untuk meneruskan perjuangan. Beliau bertakata: ”Kejadian-kejadian seperti ini tidak boleh menghancurkan cita-cita dan mengendorkan semangat.” Peristiwa ini justru merupakan motif pendorong yang utama untuk melipatgandakan tekad dan kegiatan.
Kemudian Kyai Hasyim mengirim delegasi ke berbagai daerah di Indonesia. Dukungan bantuan baik moral maupun material datang dari segala penjuru. Kaum muslimin menganggap bencana ini tidak hanya mengenai pesantren semata, melainkan juga merupakan penghinaan terhadap kaum muslimin secara umum.
Mengetahui hal tersebut, Belanda tidak tinggal diam. Belanda mulai mengawasi gerak-gerik para ulama’ dan seringkali melontarkan tuduhan bahwa mereka melawan “Pemerintahan yang sah” Belanda, mengobarkan kekacauan, dan tindakan-tindakan lain sebagainya. Namun, para ulama’ tetap meneruskan perjuangan mereka tanpa menghiraukan hambatan-hambatan tersebut.
 Dalam kurun waktu sebentar, Pesantren Tebuireng dapat kembali dipulihkan. Bahkan bangunannya lebih besar, lebih luas, dan lebih kokoh. Pada tahun 1317 H masyarkata islam mengadakan perayaan di pesantren baru menyambut tanggal berdirinya pesantren yang menjadi batu permata bagi pencetakan para ulama’ besar dan menara ilmu serta perjuangan ini. [1]
Inti dari sikap Kyai Hasyim dalam peristiwa tersebut ialah bersabar atas apa yang menimpa beliau. Bersabar bukan berarti hanya berdiam diri dan menggu uluran tangan dari orang lain. Akan tetapi sabar ialah tidak lekas terbawa emosi saat Pesantren Tebuireng dan balas dengan menyerang. Sabar dalam melanjutkan perjuangan untuk mensyiarkan agama islam sekaligus meraih kemerdekaan Bangsa Indonesia.
Hal ini pula yang dicontohkan oleh Rasulullah  SAW dalam berdakwah. Meskipun cacian dan gangguan tidak pernah sekalipun berhenti dilakukan oleh orang kafir kepada Rasulullah SWT dan umat islam saat itu. Lantas tidak membuat Rasulullah dan umat islam kehilangan semangat untuk mensyiarkan agama islam, rohmatan lil ‘alamin.
Demikianlah yang dapat kita teladani dari Kyia Hasyim, dengan kesabaran yang tetap dipegang teguh, Allah menjajikan pertolongan dan pahala yang besar atas orang-orang yang bersabar atas apa yang menimpa mereka. Firman Allah dalam surat Ali ‘Imron ayat 200:
يااَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَبِطُوْا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ  
200. “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersikap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kalian beruntung.”
Firman Allah dalam surat Az-Zumar ayat 10:
قُلْ يعِبَادِ الَّذِيْنَ امَنُوْا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَاَرْضُ اللهِ وَاسِعَةٌ اِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
10. “Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

[1] A., Masyhuri Aziz. 2006. 99 KIAI PONDOK PESANTREN NUSANTARA: Riwayat, Perjuangan, dan Do’a. Yogyakarta:KUTUB.




Jumat, 15 Desember 2017

Bersama Insinyur Karl Von Smith

Nama: Saifun Naja
NIM: 1791014033
Tugas UAS Makul: Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari

3. Selain dua hal diatas, manaqib apa lagi tentang Kyai Hasyim yang menarik?

Bersama Insinyur Karl Von Smith
Masih banyak kaum muslimin yang terkena trauma, dan trauma ini hampir-hampir merupakan akidah, yakni “trauma orientalis”. Segala sesuatu yang datang dari orang-orang Barat atau orang-orang Eropa, dan Eropa itu sendiri, mereka anggap rendah, beritikad buruk, serta mempunyai tujuan merusak. Smith takut jika akan menulis sesuatu akan terkena tuduhan itu. Meskipun tulisannya baik, misalnya akan dikatakan bahwa di belakang tulisan itu pasti ada maksud tertentu. Jika tidak beruntung, malah tuduhan menjadi luas: bahwa dia musuh Islam, memerangi Islam dengan selimut Islam. Kemudian sang insinyur melanjutkan, katanya “Bukankah tidak masuk akal ratusan orang Barat, semuanya orientalis dan semua mempunyai tujuan buruk terhadap Islam. Tak ada satu orangpun yang baik.”
Para orientalis tersebut melakukan penelitian dengan tujuan tertentu, misalnya untuk mengetahui masalah furu’ khilafiyah antara kaum muslimin dan mencari celah kelemahan mereka. Mungkin mereka menemukan beberapa kitab yang penting lalu mereka jadikan pegangan. Terkadang seorang seorang orientalis menulis berdasarkan kepentingannya, seukur dengan pemahamannya. Mereka inilah yang bekerja untuk melayani kepentingan negara imperialis seperti Belanda, Inggris Rusia, dan Perancis.
Smith berpendapat bahwa kaum muslimin yang khususnya menguasai bahasa asing, hendaklah menterjemahkan kitab-kitab Islam pusaka ke berbagai bahasa. Sebab kita menganggap sepele dan tidak melakukan kewajiban kita terhadap agama dan menyiarkannya di antara mereka yang tidak memahami bahasa Arab, sebagaimana dituntut oleh dakwah yang bijaksana dan nasehat yang baik. Seperti Firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 125:
اُدْعُ اِلى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِاالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ اِنَّ رَبَّكَ هُوَاَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِه وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ  
125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
           Smith melihat keistimewaan dalam diri KH. Hasyim Asy’ari yang khas dan jarang ditemukan pada orang lain. Beliau mempunyai kemampuan naluri untuk menerangkan hal-hal yang sulit tanpa penjelasan yang bertele-tele yang membosankan. Beliau sama sekali tidak pernah mengemukakan nash-nash Al-Qur’an, sabda-sabda Rasulullah atau dari kitab-kitab kaum muslimin. Karena beliau memahami bahwa Smith waktu itu belum beriman dan hanya beriman kepada yang dia percayai selama ini.
Akan tetapi ketika Smith sudah merasa puas dan dapat menerima, berkat diskusi dengan beliau selama 10 bulan, beliau baru mulai menuturkan sedikit dari ayat-ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah. Smith meminta pendapat Kyai Hasyim mengenai niat dan keinginan saya untuk memluk islam, beliau berkata: ‘Anda merdeka dalam memilih agama yang anda kehendaki. Anda telah memahami Islam. Maka pikirkanlah untuk diri anda akidah dan agama yang anda percayai berdasarkan atas ilmu dan keyakinan yang sudah Anda pelajari.’
Ketika itulah Smith memantapkan hati untuk memeluk agama islam dan menyatakan dihadapan beliau. Kyai Hasyim pun menyambut dengan hangat atas iktikad Smith untuk memeluk agama Islam.
Smith berkata: “Seandainya di dunia ini ada sepuluh orang saja seperti beliau, niscaya kita akan melihat kondisi yang berbeda dari yang berbeda dari yang sekarang kita lihat. Seandainya ada seratus orang seperti beliau yang mengkhususkan diri untuk dakwah islamiyah di Eropa, misalnya, dengan gaya bahasa beliau yang halus dan menarik itu, maka tak diragukan lagi kita akan melihat hampir semua orang Eropa beragama Islam.” [1]
Dari cara berdakwah Kyai Hasyim kepada Insinyur Karl Von Smith dapat kita simpulkan bahwa berdakwah yang baik adalah mengajak yang terdapat unsur membujuk dan merayu dengan halus dan lembut untuk memeluk agama islam. Bukan dengan cara memaksakan kehendak, apabila berbeda dengan keyakinan kita tidak langsung dibantai. Bukan juga dengan cara langsung menjejali orang-orang yang belum mempercayai agama islam dengan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tentunya mereka bukan semakin mendekat, tetapi mereka akan semakin menjauh. Sekalipun mereka telah percaya, Kyai Hasyim tetap tidak memaksakan Smith untuk memeluk agama islam, beliau tetap memberi kebebasan kepada Smith untuk memeluk agama yang dia kehendaki.
Hal diatas adalah salah satu dari banyak hal yang dapat kita teladani dari Kyai Hasyim yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Berdakwah kepada umat dengan cara yang lembut dan tidak memaksa.

[1] A., Masyhuri Aziz. 2006. 99 KIAI PONDOK PESANTREN NUSANTARA: Riwayat, Perjuangan, dan Do’a. Yogyakarta:KUTUB.