Nama: Saifun Naja
NIM: 1791014033
Tugas UAS Makul:
Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari
3. Selain dua hal
diatas, manaqib apa lagi tentang Kyai Hasyim yang menarik?
Bersama Insinyur
Karl Von Smith
Masih banyak kaum
muslimin yang terkena trauma, dan trauma ini hampir-hampir merupakan akidah,
yakni “trauma orientalis”. Segala sesuatu yang datang dari orang-orang Barat
atau orang-orang Eropa, dan Eropa itu sendiri, mereka anggap rendah, beritikad
buruk, serta mempunyai tujuan merusak. Smith takut jika akan menulis sesuatu
akan terkena tuduhan itu. Meskipun tulisannya baik, misalnya akan dikatakan bahwa
di belakang tulisan itu pasti ada maksud tertentu. Jika tidak beruntung, malah
tuduhan menjadi luas: bahwa dia musuh Islam, memerangi Islam dengan selimut
Islam. Kemudian sang insinyur melanjutkan, katanya “Bukankah tidak masuk akal
ratusan orang Barat, semuanya orientalis dan semua mempunyai tujuan buruk
terhadap Islam. Tak ada satu orangpun yang baik.”
Para orientalis
tersebut melakukan penelitian dengan tujuan tertentu, misalnya untuk mengetahui
masalah furu’ khilafiyah antara kaum muslimin dan mencari celah kelemahan
mereka. Mungkin mereka menemukan beberapa kitab yang penting lalu mereka
jadikan pegangan. Terkadang seorang seorang orientalis menulis berdasarkan kepentingannya,
seukur dengan pemahamannya. Mereka inilah yang bekerja untuk melayani
kepentingan negara imperialis seperti Belanda, Inggris Rusia, dan Perancis.
Smith berpendapat
bahwa kaum muslimin yang khususnya menguasai bahasa asing, hendaklah menterjemahkan
kitab-kitab Islam pusaka ke berbagai bahasa. Sebab kita menganggap sepele dan
tidak melakukan kewajiban kita terhadap agama dan menyiarkannya di antara
mereka yang tidak memahami bahasa Arab, sebagaimana dituntut oleh dakwah yang
bijaksana dan nasehat yang baik. Seperti Firman Allah dalam surat An-Nahl ayat
125:
اُدْعُ اِلى سَبِيْلِ
رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِاالَّتِيْ هِيَ
اَحْسَنُ اِنَّ رَبَّكَ هُوَاَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِه وَهُوَ اَعْلَمُ
بِالْمُهْتَدِيْنَ
125. Serulah (manusia) kepada
jalan Tuhan-mu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka
dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui
tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui
orang-orang yang mendapat petunjuk.
Smith melihat keistimewaan dalam diri KH. Hasyim Asy’ari
yang khas dan jarang ditemukan pada orang lain. Beliau mempunyai kemampuan
naluri untuk menerangkan hal-hal yang sulit tanpa penjelasan yang bertele-tele
yang membosankan. Beliau sama sekali tidak pernah mengemukakan nash-nash
Al-Qur’an, sabda-sabda Rasulullah atau dari kitab-kitab kaum muslimin. Karena
beliau memahami bahwa Smith waktu itu belum beriman dan hanya beriman kepada
yang dia percayai selama ini.
Akan tetapi ketika Smith
sudah merasa puas dan dapat menerima, berkat diskusi dengan beliau selama 10
bulan, beliau baru mulai menuturkan sedikit dari ayat-ayat Al-Qur’an dan
As-Sunnah. Smith meminta pendapat Kyai Hasyim mengenai niat dan keinginan saya
untuk memluk islam, beliau berkata: ‘Anda merdeka dalam memilih agama yang anda
kehendaki. Anda telah memahami Islam. Maka pikirkanlah untuk diri anda akidah
dan agama yang anda percayai berdasarkan atas ilmu dan keyakinan yang sudah
Anda pelajari.’
Ketika itulah Smith
memantapkan hati untuk memeluk agama islam dan menyatakan dihadapan beliau.
Kyai Hasyim pun menyambut dengan hangat atas iktikad Smith untuk memeluk agama
Islam.
Smith berkata: “Seandainya
di dunia ini ada sepuluh orang saja seperti beliau, niscaya kita akan melihat kondisi
yang berbeda dari yang berbeda dari yang sekarang kita lihat. Seandainya ada
seratus orang seperti beliau yang mengkhususkan diri untuk dakwah islamiyah di
Eropa, misalnya, dengan gaya bahasa beliau yang halus dan menarik itu, maka tak
diragukan lagi kita akan melihat hampir semua orang Eropa beragama Islam.” [1]
Dari cara berdakwah Kyai
Hasyim kepada Insinyur Karl Von Smith dapat kita simpulkan bahwa berdakwah yang
baik adalah mengajak yang terdapat unsur membujuk dan merayu dengan halus dan
lembut untuk memeluk agama islam. Bukan dengan cara memaksakan kehendak,
apabila berbeda dengan keyakinan kita tidak langsung dibantai. Bukan juga
dengan cara langsung menjejali orang-orang yang belum mempercayai agama islam
dengan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tentunya mereka bukan semakin mendekat,
tetapi mereka akan semakin menjauh. Sekalipun mereka telah percaya, Kyai Hasyim
tetap tidak memaksakan Smith untuk memeluk agama islam, beliau tetap memberi
kebebasan kepada Smith untuk memeluk agama yang dia kehendaki.
Hal diatas adalah salah satu
dari banyak hal yang dapat kita teladani dari Kyai Hasyim yang dapat kita
terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Berdakwah kepada umat dengan cara yang
lembut dan tidak memaksa.
[1] A.,
Masyhuri Aziz. 2006. 99 KIAI PONDOK PESANTREN NUSANTARA: Riwayat,
Perjuangan, dan Do’a. Yogyakarta:KUTUB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar