Jumat, 15 Desember 2017

Bersama Insinyur Karl Von Smith

Nama: Saifun Naja
NIM: 1791014033
Tugas UAS Makul: Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari

3. Selain dua hal diatas, manaqib apa lagi tentang Kyai Hasyim yang menarik?

Bersama Insinyur Karl Von Smith
Masih banyak kaum muslimin yang terkena trauma, dan trauma ini hampir-hampir merupakan akidah, yakni “trauma orientalis”. Segala sesuatu yang datang dari orang-orang Barat atau orang-orang Eropa, dan Eropa itu sendiri, mereka anggap rendah, beritikad buruk, serta mempunyai tujuan merusak. Smith takut jika akan menulis sesuatu akan terkena tuduhan itu. Meskipun tulisannya baik, misalnya akan dikatakan bahwa di belakang tulisan itu pasti ada maksud tertentu. Jika tidak beruntung, malah tuduhan menjadi luas: bahwa dia musuh Islam, memerangi Islam dengan selimut Islam. Kemudian sang insinyur melanjutkan, katanya “Bukankah tidak masuk akal ratusan orang Barat, semuanya orientalis dan semua mempunyai tujuan buruk terhadap Islam. Tak ada satu orangpun yang baik.”
Para orientalis tersebut melakukan penelitian dengan tujuan tertentu, misalnya untuk mengetahui masalah furu’ khilafiyah antara kaum muslimin dan mencari celah kelemahan mereka. Mungkin mereka menemukan beberapa kitab yang penting lalu mereka jadikan pegangan. Terkadang seorang seorang orientalis menulis berdasarkan kepentingannya, seukur dengan pemahamannya. Mereka inilah yang bekerja untuk melayani kepentingan negara imperialis seperti Belanda, Inggris Rusia, dan Perancis.
Smith berpendapat bahwa kaum muslimin yang khususnya menguasai bahasa asing, hendaklah menterjemahkan kitab-kitab Islam pusaka ke berbagai bahasa. Sebab kita menganggap sepele dan tidak melakukan kewajiban kita terhadap agama dan menyiarkannya di antara mereka yang tidak memahami bahasa Arab, sebagaimana dituntut oleh dakwah yang bijaksana dan nasehat yang baik. Seperti Firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 125:
اُدْعُ اِلى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِاالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ اِنَّ رَبَّكَ هُوَاَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِه وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ  
125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
           Smith melihat keistimewaan dalam diri KH. Hasyim Asy’ari yang khas dan jarang ditemukan pada orang lain. Beliau mempunyai kemampuan naluri untuk menerangkan hal-hal yang sulit tanpa penjelasan yang bertele-tele yang membosankan. Beliau sama sekali tidak pernah mengemukakan nash-nash Al-Qur’an, sabda-sabda Rasulullah atau dari kitab-kitab kaum muslimin. Karena beliau memahami bahwa Smith waktu itu belum beriman dan hanya beriman kepada yang dia percayai selama ini.
Akan tetapi ketika Smith sudah merasa puas dan dapat menerima, berkat diskusi dengan beliau selama 10 bulan, beliau baru mulai menuturkan sedikit dari ayat-ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah. Smith meminta pendapat Kyai Hasyim mengenai niat dan keinginan saya untuk memluk islam, beliau berkata: ‘Anda merdeka dalam memilih agama yang anda kehendaki. Anda telah memahami Islam. Maka pikirkanlah untuk diri anda akidah dan agama yang anda percayai berdasarkan atas ilmu dan keyakinan yang sudah Anda pelajari.’
Ketika itulah Smith memantapkan hati untuk memeluk agama islam dan menyatakan dihadapan beliau. Kyai Hasyim pun menyambut dengan hangat atas iktikad Smith untuk memeluk agama Islam.
Smith berkata: “Seandainya di dunia ini ada sepuluh orang saja seperti beliau, niscaya kita akan melihat kondisi yang berbeda dari yang berbeda dari yang sekarang kita lihat. Seandainya ada seratus orang seperti beliau yang mengkhususkan diri untuk dakwah islamiyah di Eropa, misalnya, dengan gaya bahasa beliau yang halus dan menarik itu, maka tak diragukan lagi kita akan melihat hampir semua orang Eropa beragama Islam.” [1]
Dari cara berdakwah Kyai Hasyim kepada Insinyur Karl Von Smith dapat kita simpulkan bahwa berdakwah yang baik adalah mengajak yang terdapat unsur membujuk dan merayu dengan halus dan lembut untuk memeluk agama islam. Bukan dengan cara memaksakan kehendak, apabila berbeda dengan keyakinan kita tidak langsung dibantai. Bukan juga dengan cara langsung menjejali orang-orang yang belum mempercayai agama islam dengan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tentunya mereka bukan semakin mendekat, tetapi mereka akan semakin menjauh. Sekalipun mereka telah percaya, Kyai Hasyim tetap tidak memaksakan Smith untuk memeluk agama islam, beliau tetap memberi kebebasan kepada Smith untuk memeluk agama yang dia kehendaki.
Hal diatas adalah salah satu dari banyak hal yang dapat kita teladani dari Kyai Hasyim yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Berdakwah kepada umat dengan cara yang lembut dan tidak memaksa.

[1] A., Masyhuri Aziz. 2006. 99 KIAI PONDOK PESANTREN NUSANTARA: Riwayat, Perjuangan, dan Do’a. Yogyakarta:KUTUB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar