Sabtu, 16 Desember 2017

Perjuangan Kyai Hasyim Mendirikan Pesantren Tebuireng

Nama: Saifun Naja
NIM: 1791014033
Tugas UAS Makul: Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari

1.   Asad Shahab (1971:14) menceritakan bahwa Kyai Hasyim mengatakan: “Sesungguhnya peristiwa-peristiwa yang datang secara mendadak seperti ini, tidak boleh menghancurkan cita-cita kita dan tidak boleh mematahkan semangat perjuangan.”
Berikan ulasan tentang sikap “pantang sebelum menang” dari Kyai Hasyim ini!

Perjuangan Kyai Hasyim Mendirikan Pesantren Tebuireng      
Ketika mendirikan Pesantren Tebuireng, Kyai Hasyim tidak serta merta melaluinya dengan mudah. Beliau dengan gigih menghadapi segala macam kesulitan dan hambatan yang selalu diluncurkan oleh pihak colonial Belanda. Ketika Belanda gagal dalam menjegal Kyai Hasyim, Belanda pun beralih mengggunakan kekuatan dan kekerasan. Mereka mengirim pasukan bersenjata untuk menguasai Pesantren Tebuireng dan memporak-porandakan pesantren tersebut.
Kekuatan penyerang pada waktu itu berusaha membunuh Kyai Hasyim atau menculiknya. Oleh sebab itu, terjadilah benturan berdarah antara kekuatan penyerang dan para santri serta para guru yang mempertahankan pesantren dan menjaga keamanan Kyai Haysim. Pihak penyerang menggunakan berbagai alas an dan tuduhan untuk membenarkan tindakan mereka. Mereka menuduh bahwa Pesantren Tebuireng merupakan pusat perusuh pemberontak, dan orang-orang Islam ekstrem.
Pada hari berikutnya Kyai Hasyim keluar menyaksikan apa yang sudah terjadi dan menjumpai sebagian besar bangunan pondok pesantren kerusakan parah. Benda-benda penting yang sangat berharga seperti kitab-kitab dan lain sebagainya telah dirampas. Kyai Hasyim kemudian mengumpulkan seluruh guru dan santri dan tokoh masyarakat setempat di lapangan pondok. Kyai Hasyim menyampaikan pidato berharga yang membesarkan hati mereka.
Beliau menyerukan kepada hadirin agar tetap bersabar dan tabah untuk meneruskan perjuangan. Beliau bertakata: ”Kejadian-kejadian seperti ini tidak boleh menghancurkan cita-cita dan mengendorkan semangat.” Peristiwa ini justru merupakan motif pendorong yang utama untuk melipatgandakan tekad dan kegiatan.
Kemudian Kyai Hasyim mengirim delegasi ke berbagai daerah di Indonesia. Dukungan bantuan baik moral maupun material datang dari segala penjuru. Kaum muslimin menganggap bencana ini tidak hanya mengenai pesantren semata, melainkan juga merupakan penghinaan terhadap kaum muslimin secara umum.
Mengetahui hal tersebut, Belanda tidak tinggal diam. Belanda mulai mengawasi gerak-gerik para ulama’ dan seringkali melontarkan tuduhan bahwa mereka melawan “Pemerintahan yang sah” Belanda, mengobarkan kekacauan, dan tindakan-tindakan lain sebagainya. Namun, para ulama’ tetap meneruskan perjuangan mereka tanpa menghiraukan hambatan-hambatan tersebut.
 Dalam kurun waktu sebentar, Pesantren Tebuireng dapat kembali dipulihkan. Bahkan bangunannya lebih besar, lebih luas, dan lebih kokoh. Pada tahun 1317 H masyarkata islam mengadakan perayaan di pesantren baru menyambut tanggal berdirinya pesantren yang menjadi batu permata bagi pencetakan para ulama’ besar dan menara ilmu serta perjuangan ini. [1]
Inti dari sikap Kyai Hasyim dalam peristiwa tersebut ialah bersabar atas apa yang menimpa beliau. Bersabar bukan berarti hanya berdiam diri dan menggu uluran tangan dari orang lain. Akan tetapi sabar ialah tidak lekas terbawa emosi saat Pesantren Tebuireng dan balas dengan menyerang. Sabar dalam melanjutkan perjuangan untuk mensyiarkan agama islam sekaligus meraih kemerdekaan Bangsa Indonesia.
Hal ini pula yang dicontohkan oleh Rasulullah  SAW dalam berdakwah. Meskipun cacian dan gangguan tidak pernah sekalipun berhenti dilakukan oleh orang kafir kepada Rasulullah SWT dan umat islam saat itu. Lantas tidak membuat Rasulullah dan umat islam kehilangan semangat untuk mensyiarkan agama islam, rohmatan lil ‘alamin.
Demikianlah yang dapat kita teladani dari Kyia Hasyim, dengan kesabaran yang tetap dipegang teguh, Allah menjajikan pertolongan dan pahala yang besar atas orang-orang yang bersabar atas apa yang menimpa mereka. Firman Allah dalam surat Ali ‘Imron ayat 200:
يااَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَبِطُوْا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ  
200. “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersikap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kalian beruntung.”
Firman Allah dalam surat Az-Zumar ayat 10:
قُلْ يعِبَادِ الَّذِيْنَ امَنُوْا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَاَرْضُ اللهِ وَاسِعَةٌ اِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
10. “Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

[1] A., Masyhuri Aziz. 2006. 99 KIAI PONDOK PESANTREN NUSANTARA: Riwayat, Perjuangan, dan Do’a. Yogyakarta:KUTUB.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar